Stigma buruk dari masyarakat dalam menanggapi kesehatan mental tidak jarang terdengar. Bahkan di zaman dimana teknologi telah memimpin hampir seluruh aspek kehidupan manusia seperti saat ini, masyarakat masih menganggap seseorang dengan gangguan mental adalah orang aneh dan lemah. Hal tersebut membuat penderita semakin menutup diri dan berpeluang kecil untuk menyembuhkan dirinya. Contoh kasus yang cukup sering terjadi dan masih dianggap remeh adalah ketika kamu adalah penderita serangan panik yang saat itu berada pada posisi dimana kelainan yang kamu miliki bekerja tanpa sadar dan saat itu juga orang-orang disekitar langsung memperhatikanmu dan menganggap dirimu sedang mencari perhatian dengan berpura-pura lemah. Tidak jarang juga mereka akan mengatakan hal-hal buruk tentangmu seperti “Karena keadaan seperti itu saja kamu jadi begini, lemah sekali” atau “Kamu kalau mau cari perhatian jangan seperti ini”, tentu kamu yang saat itu merasa benar-benar sakit lalu mendengar perkataan seperti itu akan menyalahkan diri sendiri dan menutup diri dengan tidak menceritakan kondisi yang sebenarnya kamu alami kepada orang ahli atau keluarga dan kerabat karena terlalu malu dengan kondisi yang kamu miliki. Pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang salah dan dengan kurangnya penanganan yang seharusnya kamu dapatkan membuat semakin parahnya kelainan yang kamu alami, serta bukan menjadi sebuah solusi dari permasalahan dirimu. Maka dari itu, stigma masyarakat yang ada haruslah dihilangkan.
Sebelum itu, kita sudah seharusnya mengerti tentang apa sih kesehatan mental itu. Kesehatan mental tidak hanya berputar pada gangguan mental saja, loh. Kesehatan mental yang dibicarakan disini adalah suatu kontinum dimana kita tidak dapat menentukan apakah diri kita saat itu sedang mengalami sakit atau sehat saja. Kesehatan mental itu juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik, keduanya saling memiliki keterlibatan, bilamana seseorang terganggu fisiknya, maka ia dapat dimungkinkan terganggu mental atau psikisnya, begitupun sebaliknya. Karena sehat dan sakit merupakan kondisi biopsikososial yang menyatu dalam kehidupan manusia. Menurut WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.
Dilansir dari data Riskedas pada tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai 14 juta orang atau sekitar 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu orang atau sebanyak 1,7 per 1000 penduduk. Penyebab masih tingginya masalah kesehatan mental dipicu dari kurang adanya ketebukaan masyarakat mengenai hal tersebut, mereka memilih untuk diam dan mencoba untuk melakukan penanganan sendiri, dengan cara primitif dan kuno. Selain itu dapat juga dipicu oleh minimnya edukasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat akan hal tersebut
Untuk mengatasi permasalahan ini ada berbagai hal positif yang dapat kamu lakukan, seperti melakukan hal yang kamu sukai, contohnya membuat kerajinan tangan, melukis, menonton film dan lainnya. Selain itu, kamu juga bisa melakukan hal baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, cobalah mencari kesibukan jika kamu punya lebih banyak waktu. Selanjutnya, kamu juga seharusnya sudah bisa memilah berita yang kamu baca sehari-hari. Pilihlah berita-berita positif yang dapat dibuktikan kebenarannya. Tetap berkomunikasi dengan orang lain juga bisa jadi cara untuk menjaga kesehatan mental, loh. Berkomunikasi dan menjalin hubungan yang baik dengan teman atau keluarga dapat membuat diri kita menjadi lebih berharga.
Komentar
Posting Komentar